Minggu, 30 September 2012

West Papua: Australian gov't backs Indonesian atrocities

West Papua: Australian gov't backs Indonesian atrocities

Sunday, September 30, 2012
 
 
 
Papuans mourn independence activist Mako Tabuni, murdered in an operation involving the Australian-funded Detatchment 88.
The Australian government's support for Indonesia's occupation of West Papua reached absurd levels on September 12. Labor and Coalition senators voted down a Senate condolence motion for late refugee advocate and Papuan solidarity activist Vikki Riley on the basis that it contained the words “West Papua”.

The Don't Say These Words? blog said on September 13 that Country Liberal Senator Nigel Scullion told the mover of the motion, John Madigan of the Democratic Labor Party, that he would support the motion if the words “West Papua” were removed.
Labor Senator Trish Crossin said: “The government will not be supporting this motion because of her involvement with West Papua, in that it is in conflict with our foreign policy.”
Like Australia's infamous support for Indonesia's genocidal occupation of East Timor for more than two decades, Labor and Coalition governments back Indonesia's occupation of West Papua ― and assist its brutal suppression of the movement for liberation.

Richard Di Natale of the Greens said he was “staggered” at the position of Labor and the Coalition in refusing to support the condolence motion. “On the basis of her advocacy for the people of West Papua, who are currently being slaughtered, [the Senate is] going to vote down a condolence motion. Where is the courage to stand up and say: ‘Well done. You deserve our respect’? It is appalling.”
Madigan refused to alter the motion after consulting with Riley’s partner, Jimmy Hatton. Only the Greens, Madigan and independent Nick Xenophon voted in favour.

In related news, the former head of Indonesia's brutal Detachment 88 anti-terrorism unit has been appointed police chief in Papua province, part of the occupied nation of West Papua.
The Australian-funded and trained Detachment 88 faced scrutiny last month over its alleged role in the murder of leading Papuan independence activist Mako Tabuni in June.
The appointment of Tito Karnavian, who led the unit from 2004 to 2011, sends a clear message that the Indonesian government intends to foist more repression on the long-suffering people of West Papua.
The Jakarta Post said on September 26 that Karnavian promised to look into unresolved human rights abuses. The seriousness of such investigations is under question, as Detachment 88, under Karnavian, is alleged to be culpable in some of the cases.
Detachment 88's involvement in Indonesia's long reign of terror in West Papua has risen in recent years. The unit was formed after an agreement between Australia and Indonesia in 2002, with Australia providing millions of dollars in funding and training, ostensibly to fight terrorism.
However the unit's involvement in politically motivated actions has raised little concern from the Australian government, which only raises limp diplomatic “concerns” while continuing to give millions. 
West Papua has been the site of ongoing human rights abuse since its takeover by Indonesia in 1963. The Indonesian government and military have maintained a situation of mass exploitation of the people and environment, robbing the area of its vast natural resources. This situation has meant most Papuans support independence from Indonesia.

Much of the area's wealth goes to Western and Indonesian corporations, leaving little for Papuans. The military and police are also known to run illegal businesses, particularly around the mining industry.
Straits Times said on September 20 that police were running a $100 million-a-year gold panning business in the waste from the Grasberg mine owned by Freeport McMoRan.
Security forces also launched a big operation last year, allegedly to increase control of gold panning in the Degeuwo River near a mine owned by Australian company West Wits. West Papua Media said last December that Detachment 88 were allegedly involved and that West Wits had allegedly lent its helicopters to security forces for the operation.
Meanwhile, West Papuan people suffer the worst standard of living in Indonesia.
Bintang Papua said on September 14 that many Papuans in remote areas had never received medical care because authorities had deemed it too hard to provide. Many people had no concept of what “medical personnel” were, such was the level of neglect.

The education system is also severely neglected. Lydia Freyani of the department of education (PAUDNI) told Theglobejournal.com on September 16 that up to 1.9 million Papuan people were illiterate out of a population of 2.6 million.
Australia and other Western countries also lend political support to Indonesia's human rights abuses by making excuses for the violence and supporting Indonesia's “territorial integrity” ahead of the right of West Papuans to choose independence.

Chairperson of the West Papua National Committee (KNPB) Victor Yeimo said on September 9: “The lust of economic and political expansion of the states, without feeling of guilt, continues to increase the suffering of the West Papuans ... People of West Papua fully understand how colonialism and exploitation scenarios work in this modern century.

“Labelling and stigmatisation of indigenous people as terrorists, and then kill and take control of land and its natural resources are the ways that are always used by the colonial countries and capitalists.
“Australia, Britain, the U.S. and Indonesia are implementing those ways in West Papua. The peaceful resistance movement in West Papua is being silenced by the Indonesian military forces.”
However, activists in Britain have sought to break the official silence by issuing a £50,000 reward for anyone who carried out a citizen's arrest on Indonesian President Susilo Bambang Yudhoyono on his upcoming visit to Britain, the Jakarta Globe said on September 19.

“We believe he should face justice as thousands of people are being killed in West Papua,” spokesperson for the Free West Papua Campaign Alex Regent

told : Harian Detik.
         http://www.greenleft.org.au/node/52396

Jelang Raimuna Papua, TNI Gelar Pengobatan Gratis

foto
Presiden SBY menjadi pembina upacara pada Upacara Peringatan Hari Pramuka ke-51 di Taman Wiladatika, Cibubur, Depok, Jawa Barat, Senin (3/9). TEMPO/Subekti

TEMPO.CO, Jayapura - Anggota TNI bersama jajaran Pemerintah Kota Jayapura, Papua, menggelar pengobatan massal bagi warga di Perumnas III, Waena, Abepura, Kota Jayapura, Sabtu, 29 September 2012. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka menyambut Raimuna Nasional X Pramuka 8-15 Oktober 2012 di Bumi Perkemahan Pokela, Waena, Kota Jayapura.

Komandan Kodim 1701/Jayapura, Letkol Inf Rano Tilaar, mengatakan, selain pengobatan, TNI memberi bantuan sekitar 600 bungkus bahan makanan pada warga kurang mampu. “Ini merupakan pendekatan TNI, namun utamanya agar warga yang sakit dapat dibantu secara gratis,” kata Tilaar, Sabtu siang.

Ratusan warga membanjiri lapangan dekat Universitas Cenderawasih di Perumnas III untuk ikut dalam pengobatan. Mereka mendaftar nama, kemudian diperiksa dokter atau mantri. Ada 10 dokter, 16 mantri, dan seorang apoteker ditugaskan.

Untuk membantu pengobatan, belasan anggota Kodim 1701/Jayapura diturunkan. “Pelaksanaan dibuat di Perumnas III karena daerah ini dekat bumi perkemahan. Di sini, warga lebih butuh bantuan kesehatan,” kata Tilaar.

Anselmus, warga Perumnas III, mengaku gembira bisa berobat gratis. “Saya sakit, biasa keram-keram, tapi terima kasih sudah ada kegiatan ini, maunya tiap minggu boleh,” katanya.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah Papua Brigadir Jenderal Paulus Waterpauw mengatakan, pihaknya menurunkan sekitar 1.600 personel untuk mengamankan rencana kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuka Raimuna Nasional X. “Ada 1.600 personel, persiapan itu sudah dari lama,” katanya.

Menjamin lancarnya Raimuna, kata dia, kepolisian melakukan pendekatan persuasif dengan masyarakat sekitar lokasi kegiatan. “Kita merangkul juga sekitar seratus tokoh. Kita berharap pelaksanaan Raimuna tidak terganggu dengan hal-hal tak diinginkan,” ujarnya.

JERRY OMONA

sumber : Tempo.co.

Jenifer Robinson Pernah Magang di Elsham Papua

Jenifer Robinson Pernah Magang di Elsham Papua

Oleh MAJALAH SELANGKAH 
Tuesday, 28-08-2012 16:19:35

Human rights lawyer Jennifer Robinson @http://www.abc.net.au
Jayapura, MAJALAH SELANGKAH — Jenifer Robinson, salah satu pengacara yang saat ini tergabung dalam International Lawyer for West Papua (ILWP) yang bermarkas di London, Inggris pernah diterima magang di Kantor Lembaga Studi dan Advokasi Hak Asasi Manusia (Elsham) Papua. Hal  ini disampaikan Ferdinand Marisan, Direktur Elsham Papua kepada MAJALAH SELANGKAH hari ini, Selasa (28/8) di Padang Bulan, Jayapura.
“Jenifer Robinson, salah satu pengacara di International Lawyers for West Papua (ILWP) pernah magang di sini pada Tahun 2002 lalu. Jenifer Robinson magang selama enam bulan,” demikian kata Marisan terkait magang mahasiswa ini di Padang Bulan, Jayapura.
Menurut Marisan, sejak Tahun 1998 Elsham Papua telah menerima mahasiswa magang, bukan hanya mahasiswa yang berasal dari Papua saja tetapi juga yang berasal dari luar negeri.
Tahun ini Elsham menerima lima orang mahasiswa magang. Empat orang mahasiswa berasal dari Universitas Cenderawasih (Uncen) sedangkan satu lagi dari Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ). Magang USTJ dimulai pada Tanggal 5 Juli 2012 dan berakhir pada Tanggal 15 Agustus 2012 lalu, khusus mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional.
“Kesan saya selama magang di kantor Elsham, kantor ini banyak memberikan gambaran untuk bagaimana menghadapi dunia kerja. Bukan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) tapi swasta. Selain itu, saya juga mendapatkan pengetahuan lebih selama magang di tempat ini,” kata Whens Tebay di Kantor Elsham Papua. (Aprila Wayar/MS)

sumber : Majalah Selangkah

Kesan Yang Sangat Megerikan Bagi Dadah Jenis Baru Di Rusia

Kesan Yang Sangat Megerikan Bagi Dadah Jenis Baru Di Rusia 

Sebuah jenis dadah baru telah menjadi trend di kalangan para penagih dadah ini di Rusia. Dadah jenis ini biasa di sebut sebagai Krokodil (buaya). Dadah ini mempunyai kesan yang sangat mengerikan dan mematikan, yang akan memamah kulit, daging dan tulang dari para pengguna.

Krokodil termasuk jenis desomorphine sebuah sintetik opioid yang lebih berbahaya daripada heroin. Obat terlarang ini dibuat melalui beberapa siri reaksi kimia dan campuran beberapa bahan saraf yang lain

Di Rusia, heroin biasa dijual dengan harga sekitar $ 40 per-dosis di Rusia. Penggunaan desomorphine biasanya di campur dapat dengan Kodein-Obat penghilang rasa sakit berasaskan dan bahan-bahan konsumsi rumah tangga yang lain.

Gambar-gambar di bawah ini menunjukkan kesan yang sangat buruk sekali dari Obat terlarang ini. Kesannya menimbulkan luka pada anggota tubuh dengan kerosakan yang sangat fatal, bahkan banyak di antaranya mengakibatkan pembusukan pada daging dan kulit pengguna. Kulit dan daging korban terrkelupas dari tulangnya.

Gambar sangat mengerikan, tidak sesuai untuk orang-orang yang sensitif terhadap luka.












Terima kasih Telah Membaca Artikel Di whenst.blogspot.com- Jika  Artikel Ini Dirasa Bermanfaat Tolong Share Kepada rakan-rakan And.

sumber: tabekpuang.blogspot.com

Mahasiswa Asal Yahukimo Pertanyakan Dana Beasiswa


Mahasiswa Asal Yahukimo Pertanyakan Dana Beasiswa

Sabtu, 29 September 2012 07:47

Senat M Busup dan rekannya saat memberi keterang pers
Senat M Busup dan rekannya saat memberi keterang pers
                                                                                                                                          JAYAPURA – Meski beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Yahukimo untuk semester II Tahun 2012 kepada para mahasiswa asal kabupaten tersebut telah dibagikan, namun masih menimbulkan pertanyaan bagi mahasiswa penerima. Pasalnya para mahasiswa mendapat informasi bahwa dari total dana yang dialokasikan dalam APBD senilai Rp 7  milyar, hanya 3 milyar yang dibagikan.
Hal itu sebagaimana dikatakan anggota Komunitas Mahasiswa Kabupaten Yahukimo, Senat Busup, bahwa selain itu, jumlah yang diterima tiap mahasiswa juga jauh dibawah kebutuhan studinya.
“Dananya itu sudah dialokasikan Rp 7 milyar. Tapi setelah pembagian kemarin, hanya dibagi 3 milyar,” ungkapnya kepada Bintang Papua didampingi dua rekannya Carasco Busup dan Emai M di Prima Garden Abepura, Kamis (27/9).
Dikatakan, dana yang diterima mahasiswa sangat dibawah dari kebutuhan, seperti yang diterimanya sebagai mahasiswa studi akhir di Fakultas MIPA Uncen, adalah Rp 2 juta.
“Untuk SPP Rp 1,5 juta, biaya PKL dan wisuda saja Rp 7 juta. Dan untuk biaya akhir studi harus mengeluarkan biaya lebih Rp 8 juta,” ungkapnya.
Ia mmpertanyakan masalah tersebut, karena tidak sebagaimana semester sebelumnya, dana yang diterima mahasiswa relatif mencukupi. Sedangkan semester II Tahun 2012 ini terjadi pemotongan yang cukup besar.
Bahkan ia menduga dalam proses penyaluran dana beasiswa tersebut terjadi ketidakjujuran Bupati. “Jadi kami sangat tidak puas sekali. Kami bersyukur bila Bupati jujur sama kami. Tapi ini Bupati tidak jujur, meski Bupati sering mengucapkan ke kami untuk bersyukur dalam segala hal,” ungkapnya lagi. (aj/bom/l03)     sumber: bintang papua

   

Bupati Pertama Kabupaten Nduga

Bupati Pertama Kabupaten Nduga

Aunjungi Alamat : http://www.youtube.com/watch?v=sfQPRPbSsWQ

Polisi Grebek dan Tangkap Anggota KNPB di Wamena

Polisi Grebek dan Tangkap Anggota KNPB di Wamena

September 29, 2012

Wamena, KNPBnews- Polisi Indonesia kembali melakukan penggrebekan sekretariat KNPB Wilayah Baliem, Wamena dan melakukan penangkapan terhadap 8 anggota KNPB sore ini (29/9) pukul 05.30, di kompleks Potikelek, Wamena, West Papua.

http://knpbnews.com/wp-content/uploads/2012/08/knpb2.png

Ketua KNPB wilayah Baliem, Simion Dabi saat dihubungi KNPBnews sore ini membenarkan bahwa anggotanya, yakni Sekjen KNPB Wilayah Baliem, Janus Wamu (26), Eddo Doga (26), Irika Kosay (19), Jusuf Hiluka (52), Yan Mabel (33),  Amus Elopere (22), Wioge Kosay (18) dan Melias Kosay (35) telah ditangkap dengan tidak manusiawi di Sekretariat KNPB Baliem, Wamena.

“Kira-kira pukul 5.30 sore ini Polisi dari satuan Densus 88 dan Polisi dengan senjata lengkap menggunakan 2 truk dalmas, 4 mobil extrada, 2 mobil polisi dan sekitar 14 motor 5 kendaraan masuk dan menggrebek kami punya honai, sekjen dan 7 orang ditahan, dan katanya besok mereka akan kembali bakar rumah honai disini. Kami belum tahu motif penangkapan ini, tapi kemungkinan ini berkaitan dengan skenario menggiring aktivis KNPB ke teroris dengan mengkaitkan kasus peledakan Bom beberapa waktu lalu di jalan Irian Wamena”, terang Dabi dengan nada kesal.

Menurut Dabi penangkapan dilakukan sewenang-wenang tanpa prosedur hukum serta saat ini kedelapan orang yang ditangkap berada dalam kondisi tidak aman. Kedelapan anggota KNPB saat ini sedang dintrogasi, dipaksa dan diintimidasi di Polres Wamena.

Ketua Umum KNPB, Victor Yeimo telah mendesak kepada Kapolres Jayawijaya agar kedelapan orang anggotanya dilepas, “Saya baru telepon langsung tapi tidak diangkat, saya hanya SMS kepada Kapolres agar segera membebaskan anak buah saya yang ditangkap, karena itu perbuatan yang tidak beradab dan beradat”, tegas Victor.

Sebelumnya (23/9) lalu, enam anggota KNPB di Timika ditangkap di jalan oleh Polisi Indonesia dan diintimidasi selama sehari di Polres Mimika. Tanpa salah, aktivis  KNPB terus dikejar, ditangkap, diintimidasi dan dibunuh oleh NKRI. (wd)

Bagi anda yang peduli terhadap kemanusiaan dan perjuangan bangsa Papua Barat segera desak pembebasan 8 aktivis KNPB kepada Kapolres Jayawijaya Arifin di no hp   +628125421793 .

sumber :http://knpbnews.com/blog/archives/847

Jumat, 28 September 2012

DPR Usul Papua Selatan Jadi Provinsi

PEMEKARAN DAERAH

DPR Usul Papua Selatan Jadi Provinsi

Kamis, 27 September 2012

JAKARTA : DPR RI mengingatkan kepada Pemerintah untuk membuat skala prioritas terkait usulan daerah otonomi baru (DOB) yang masuk. Salah satu prioritas yang mesti diperhatikan Pemerintah terkait usulan DOB itu adalah daerah perbatasan, atau terluar dari Indonesia. DPR pun mengusulkan, agar pemekeran Papua Selatan dipertimbangkan Pemerintah sebagai DOB baru.

"Pemerintah mestinya membuat skala prioritas untuk pemekeran daerah khususnya bagi daerah-daerah perbatasan. Dan, Papua Selatan termasuk daerah yang menjadi prioritas dan sudah memenuhi syarat untuk menjadi provinsi ketiga di wilayah Timur Indonesia ini setelah Papua dan Papua Barat," ujar Wakil Ketua Komisi II DPR Ganjar Pranowo bersama pengusul Provinsi Papua Selatan Johanes Gluba Gebze di ruang wartawan, Gedung DPR/MPR/ DPD, Jakarta, Rabu (26/9).

Menurut Ganjar, sampai tahun 2012 DPR menerima 24 usulan DOB untuk dimekarkan. Salah satu dari 24 calon DOB baru adalah Papua Selatan, (Papua Barat Daya, dulu). Namun, setelah dievaluasi Pemerintah dari 24 daerah hanya menjadi 19 daerah yang masih memungkinkan untuk dimekarkan.

"Hanya saja ada isu moratorium pada 2009, sehingga pemekaran daerah tersebut dihentikan. Padahal, tidak ada yang namanya moratorium tersebut," jelas dia. Penolakan moratorium oleh DPR karena alasan disampaikan pemerintah ke DPR tidak berdasar. Dikatakan, Pemerintah tidak bisa menjawab kenapa hingga 2011 sebanyak 80 persen pemekaran daerah dianggap gagal.

Adapun John, sapaan akrab dari Johanes, menyatakan, usulan Provinsi Papua Selatan meliputi lima kabupaten, yaitu Merauke, Muyu dengan ibu kota Mudiptana, Boven dengan ibu kota Digul, Mappi dengan ibu kota Kepi, dan Asmat dengan ibu kota Agats.

"Jadi, secara sosial ekonomi, politik, pendidikan, ketahanan pangan, perdagangan, pertahanan keamanan, transportasi, dan administrasi kewilayahan sudah memenuhi syarat. Apalagi, dalam sejarah NKRI, sebelum integrasi dengan Indonesia, Digul ini sudah menjadi tempatnya para tokoh dan proklamator bangsa, yang dibuang oleh Belanda," ujar Jhon.

Koordinator Ikatan Kekerabatan Masyarakat Papua Selatan ini juga menilai pemekaran ini sebagai langkah untuk kemajuan dan perubahan pembangunan Papua Selatan yang lebih baik. Bahkan, kata dia, saat ini banyak desa-desa di Papua Neugini (PNG) yang masuk ke wilayah Papua Selatan.

"Usul provinsi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang tercantum secara khusus dalam design besar penataan daerah yang harus dibentuk dalam selang periode 2010-2015," ungkap dia. (Rully)

sumber :http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=312160

15.000-an Marinir akan Ditempatkan di Sorong

15.000-an Marinir akan Ditempatkan di Sorong

Kamis, 27 September 2012

SORONG – Dalam pengembangan korps Marinir TNI-AL, di Sorong nantinya akan menjadi Divisi III Marinir yang diperkuat sekitar 15-an ribu personil untuk mendukung keamanan dan pertahanan di komando wilayah laut timur yang direncanakan berada di Sorong. Divisi III Marinir nantinya dipimpin panglima berpangkat bintang dua yang disebut Pangkowilatim. Demikian dikatakan Danlanal Sorong, Kolonel Laut (P) Irvansyah kepada wartawan usai meletakkan batu pertama pembangunan markas komando (Mako) Divisi III Mariniri di Km 16 Sorong, kemarin (26/9).
Selain pembangunan markas komando, di kompleks Km 16 ini lanjut Danlanal, juga akan dibangun barak-barak mariner, perumahan untuk anggota dan fasilitas penunjang lainnya. Pembangunan Mako Divisi III Marinir ini diestimasikan rampung tahun 2013 mendatang, dan secara bertahap akan mulai dilakuakn pergeseran pasukan hingga nantinya mencapai 15 ribuan personil. “Saat pembangunan selesai sesuai jadwal tahun 2013 nanti, secara bertahap akan ada pergesaran pasukan. Tahap awal mungkin satu bataliyon dulu atau sekitar 1000-an personil,” terang Danlanal sembari mengatakan, saat ini personil Marinir yang ditempatkan di Sorong sekitar 60-an personil yang bertugas untuk pengamanan asset.
Ditanyai mengenai pembinaan personil untuk menghindari gesekan antar sesama aparat seperti yang terjadi baru-baru ini di salah satu tempat hiburan malam, Danlanal menegaskan jika pembinaan personil menjadi perhatian utama pihaknya di Lanal Sorong, dengan terus menerus melakukan pembinaan terhadap anggotanya, baik itu dari Satuan Tugas (Satgas) Mariniri yang saat ini masih dibawah komando Lanal Sorong, maupun terhadap anggota TNI-AL lainnya yang bertugas di Lanal Sorong. ”Untuk pembinaan, saat ini kan Satgas pengamanan aset di-BKO-kan di Lanal Sorong, kita lakukan pembinaan sama seperti anggota lainnya, baik itu mengenai penekanan kedisiplinan, penindakan pelanggaran, termasuk kesejahteraan juga kita perhatikan,” tandasnya.
Acara peletakan batu pertama pembangunan gedung Mako Divisi III Marinir ini dilakukan oleh Wali Kota Sorong, Drs.Ec Lamberthus Jitmau, disaksikan tamu undangan yang kemudian dilanjutkan pemotongan tumpeng oleh Danlanal Sorong. (ans)

sumber: http://www.radarsorong.com/index.php?mib=berita.detail&id=2082

Belajar dari Aceh, Reduksi Konflik Papua Dengan Dialog


Belajar dari Aceh, Reduksi Konflik Papua Dengan Dialog

Kamis, 27 September 2012

JAYAPURA - Merespon niat pemerintah pusat untuk menggelar dialog Jakarta-Papua untuk menyelesaikan akar persoalan yang selama ini terjadi di Papua, Komnas HAM menggelar pertemuan yang melibatkan sejumlah stake holder di Swisbell Hotel Jayapura.

Dalam pertemuan tersebut terlihat perwakilan dari TNI, Polri, Pemerintah (eksekutif), LSM, Mahasiswa dan para tokoh masyarakat. Pertemuan ini sengaja digelar untuk mengumpulkan pandangan konstruktif dari berbagai kalangan untuk mendorong terlaksananya dialog. Dialog Jakarta-Papua dianggap penting jika melihat persoalan yang selama ini terjadi.

Banyak kasus yang tidak saja menimbulkan kerugian tetapi juga korban nyawa, termasuk konflik horizontal dinilai urgent  untuk diselesaikan. Dialog menjadi satu langkah untuk mereduksi konflik.

Ketua Komnas HAM Pusat  Ifdhal Kasim mengatakan, proses dialog Jakarta-Papua yang sempat mencuat beberapa waktu lalu perlu segera disikapi.

Apa yang dilakukan pihaknya hanya untuk mencari informasi formulasi apa yang paling tepat untuk nantinya menjadi satu masukan bagi pemerintah pusat yang selanjutnya mengambil langkah-langkah.

Ifdhal setuju konsep dialog tersebut nantinya tak sama seperti yang sudah-sudah. Menurutnya dialog harus melibatkan para pihak yang selama ini "ribut". Tak bisa hanya membawa perwakilan dari kelompok tertentu kemudian dianggap telah menggelar dialog.  "Semua pihak dilibatkan lebih baik," katanya.

Sekalipun dalam dialog itu nantinya dalam menelorkan kesepakatan harus ada yang dikorbankan, namun jika hal tersebut untuk kebaikan bersama maka masing-masing pihak haruslah legowo.

"Dalam memutuskan dua pemahaman memang harus ada yang dikorbankan, tak biasa pemerintah hanya memenangkan pendapat. Begitu pula dengan kelompok yang berseberangan harus dituruti tetapi bagaimana ada solusi jalan tengah yang nantinya disepakati untuk menciptakan kondisi yang lebih baik," paparnya.

Selama ini masyarakat melakukan berbagai aksi lantaran ada kebijakan yang tak sepenuhnya berpihak pada rakyat. Indikatornya jelas, banyak anggaran yang dikucurkan dalam kerangkan Otonomi Khusus namun ternyata jumlah penduduk miskin masih saja bertambah. Pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan dan perumahan juga belum terjawab, sehingga untuk mengekspresikan kekecewaan inilah muncul berbagai aksi protes.

Ditanya apakah dengan dipenuhinya keinginan para pihak yang kerap menyuarakan protes kepada pemerintah ini akan memberi jaminan bahwa tak ada lagi kelompok-kelompok yang berseberangan? Ifdhal mengaku hal tersebut memang tak memberi jaminan, namun yang terpenting adalah pemerintah mau membuka diri dan merespon apa yang selama ini menjadi akar persoalan, sehingga dari sikap ini public juga akan menilai bahwa pemerintah tak menghindar dan memiliki itikad baik untuk menyelesaikan persoalan Papua. 

Ifdhal menangkap selama belum digelar dialog maka peluang terjadinya pelanggaran HAM semakin terbuka. Korelasinya adalah dari bentuk protes tersebut tak jarang berujung benturan di lapangan. Ketidakpuasan ini jika terus berkembang maka aparat sewaktu-waktu bisa mengambil sikap tegas yang rentan dengan pencederaan masyarakat sipil. "Jelas kondisi ini semakin memungkinkan untuk timbulkan pelanggaran HAM," akunya.

Dari pertemuan tersebut, isu Papua akan menjadi  penting ketika mendapat sorota dunia. Mengenai Pepera one man one vote juga sempat terlontar.

Menurut Yorgen Numberi salah satu staf dari Komnas HAM Papua, Pepera bagai tanah yang lembek karena terpaan air, namun tanah tersebut akhirnya mengeras dan membeku sehingga dirasa penting untuk kembali dicairkan.

Dalam pertemuan tersebut ia mengungkapkan bahwa di Papua kini muncul istilah "Patipa" atau Papua tipu Papua. Bentuk dialog yang selama ini didorong diakui tak cuma sekali dilakukan pemerintah pusat.

Menkopolhukam pernah menggelar dialog, Mendagri juga pernah begitu, juga dengan beberapa kementerian lainnya yang tujuannya sama yakni menyelesaikan masalah Papua. Namun yang dikritisi di sini adalah hanya pihak atau perwakilan tertentu yang hadir dalam dialog tersebut sehingga hasilnya sudah bisa ditebak.

Kerangkan dialog dianggap penting memenuhi beberapa unsur seperti lingkup dan cakupan, tujuan dialog, prinsip dialog dan partisipan. "Ini yang saya sebut tadi, muncul kelompok-kelompok baru yang dikatakan sudah mengikuti dialog tapi apa hasilnya? Akhirnya lahirlah sebutan Papua tipu Papua tadi," beber Yorgen.

Ia menilai jika hak ekonomi sosial budaya (ekosob) sudah dipenuhi maka ada keyakinan bahwa tindakan pelanggaran bisa dieliminir. Pasalnya dengan perasaan tak adanya keberpihakan inilah muncul berbagai front untuk bersuara. Dan keterlibatan pemuda di balik front tersebut kian subur.  "Kalau dilaksanakan maka kelompok terpinggirkan ini harus ikut diundang, jangan yang hanya di kota saja," sarannya.

Plt. Kepala Sekretariat Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey menceritakan bahwa persoalan Papua sejatinya tak jauh dengan Aceh kala itu. Malah Aceh berangkat dari persoalan yang terjadi di Papua, tapi kenyataannya sekarang Papua belajar dari Aceh. Yang membedakan proses penyelesaian persoalan antar Papua dan Aceh adalah pada pihak ketiga.

Penyelesaian persoalan di Aceh ada wasit yang netral sedangkan Papua tidak. Namun alternatif lain yang bisa digunakan adalah menggunakan wasit lokal yang memiliki otoritas. Dari penyampaiannya sempat terlontas beberapa nama seperti Willy Mandowen, Thaha Al Hamid, Pastor Neles Tebay dan Herman Awom yang selama ini sudah menggagas dan mengedepankan proses dialog.

Frits juga menyebut bahwa TNI bisa ikut berkaca dengan melakukan hal serupa bercermin pada sosok Pangdam Lumintang termasuk Polda pada Kapolda, Made Mangkupastika. Sedangkan Pemda belajar pada sosok Fredy Numberi.

Sepengetahuannya, dulu Jaringan Damai Papua (JDP) yang dipimpin Pastor Neles Tebay telah mendorong proses ini dengan baik. Hanya sayangnya istana mengooptasi perkelompok. Kelompok agama 1 dan kelompok agama 2 sehingga muncul kecurigaan pada kelompok agama di tingkat lokal. Baginya pelajaran dari Aceh bisa dicopy untuk penyelesaian Papua. "Di sana ada partai lokal dan pihak ketiga yang mengawasi tapi untuk Papua saya pikir kita butuh mediator yang cakap dan berkompetensi serta memiliki otorita," sarannya.

Ia mempertegas bahwa para pihak yan dilibatkan dalam dialog juga harus jelas agar tak ada pengulangan. Istana perlu mengundang pihak Pemerintah Papua, gereja, TNI-Polri, para tokoh termasuk Presidium Dewan Papua yang nantinya mewakili pihak OPM atau OPM sendiri. "Tapi kata kuncinya   saat ini ada di TNI-Polri. Jika mereka bersedia maka dialog bisa digelar, sebab negara tentu tak boleh kalah, negara tak boleh salah dan negara harus kuat," sindirnya.

Ia berharap dari yang dilakukan Komnas HAM ini bisa menjadi satu pijakan untuk mendorong terlaksananya proses dialog. "Saya pikir ini harapan semua pihak untuk Papua lebih baik ke depan," pungkas Frits. (ade/fud)


sumber :http://www.jpnn.com/read/2012/09/27/141155/Belajar-dari-Aceh,-Reduksi-Konflik-Papua-Dengan-Dialog-#

NZ Super Fund pulls out of Freeport-McMoRan mine

NZ Super Fund pulls out of Freeport-McMoRan mine


Updated 27 September 2012

The New Zealand Superannuation Fund says it will no longer invest in the Freeport-McMoRan mine in Indonesia's Papua province because of breaches to human rights standards.


The fund, which invests money on behalf of the New Zealand Government, said Freeport-McMoRan was one of four companies excluded from its $NZ19 billion investment portfolio following a recent review.

"Freeport-McMoRan has been excluded based on breaches of human rights standards by security forces around the Grasberg mine, and concerns over requirements for direct payments to government security forces by the company in at least two countries in which it operates," the company said in a statement.

"Despite improvements in Freeport-McMoRan's own human rights policies, breaches of standards by government security forces are beyond the company�s control. This limits the effectiveness of further engagement with the company."

The Indonesian Humanitarian Rights Committee of New Zealand welcomed the decision.

"It's been responsible for environmental devastation and for human rights abuses on a major scale for much longer than the six years that we've been campaigning about the issue of the super fund investment," spokeswoman Maire Leadbeater told Radio Australia's Pacific Beat program.

"We have felt that it is a significant connection that our country has with human rights abuses in West Papua and we hoped that if we could sever that connection then we would have done something as a country to help the West Papuan people."

The New Zealand Superannuation Fund has also excluded KBR (formerly Kellogg Brown & Root), Tokyo Electric Power Company (TEPCO) and Zijin Mining Group because of breaches to "global standards of good corporate behaviour".


sumber :http://www.radioaustralia.net.au/international/2012-09-27/nz-super-fund-pulls-out-of-freeportmcmoran-mine/1021794