Kamis, 25 Juni 2015

Cacing Mirip 'Alien' Asal Papua Menginvasi Amerika

Cacing Platydemus manokwari (Courtesy of Pierre Gros. CC BY 4.0)Paris - Ini bukan adegan dalam film fiksi ilmiah seperti 'Men in Black', melainkan kejadian nyata: cacing aneh mirip alien yang mulutnya ada di perut bagian tengah, tak hanya 'menginvasi' Eropa, ia juga ditemukan untuk kali pertamanya di Amerika Serikat.

Cacing pipih New Guinea (Platydemus manokwari) tebalnya hanya beberapa milimeter, namun, panjangnya bisa mencapai 2,5 inchi atau 65 milimeter.

Dari namanya, makhluk itu aslinya berasal dari New Guinea atau Papua. "New Guinea" (Nueva Guinea) adalah julukan yang diberikan penjelajah Spanyol, Ynigo Ortiz de Retez, yang pada tahun 1545 mencatat kemiripan orang-orang Papua dengan penduduk sepanjang pesisir Guinea, Afrika.

Platydemus manokwari menyebar ke seluruh dunia dengan cara menumpang di sejumlah tanaman eksotis, juga di tanah. Cacing itu membungkus diri di sekitar cangkang siput dan mencerna isinya menggunakan struktur mirip mulut di bagian bawahnya.

Sebagai spesies yang invasif, keberadaan cacing tersebut menjadi ancaman siput asli.

"Saking mengancamnya, Species Specialist Group dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan Platydemus manokwari ke dalam daftar 10 spesies paling invasif di dunia," di kutip dari situs sains LiveScience, Rabu (24/6/2015).

Cacing pipih tersebut sebelumnya dilaporkan keberadaannya di alam liar di 15 negara, juga di greenhouse atau rumah kaca di Prancis. Namun, ini adalah kali pertamanya hewan itu diketahui keberadaannya di Amerika Utara.
Kelompok peneliti multinasional, yang dipimpin ilmuwan dari Museum National d'Histoire Naturelle atau museum sejarah alam di Prancis menyisir spesimen cacing pipih dan foto-foto yang diambil penduduk lokal di seluruh dunia.

Dari sana, para peneliti menemukan, P. manokwari muncul di 5 negara dan wilayah yang sebelumnya bebas dari makhluk itu: Kaledonia Baru, kepulauan kecil di barat daya Pasifik, Singapura, Kepulauan Solomon, Puerto Rico, dan Florida.

Pengenalan spesies itu, dalam banyak kasus, baru. Misalnya, cacing tersebut mungkin tiba di Florida pada atau sekitar 2012, demikian dilaporkan para peneliti di jurnal open-access, PeerJ. Sejak itu, hewan tersebut diduga beradaptasi dengan sendirinya dan bisa ditemukan di banyak tempat di Miami hingga Dade County.

Di Puerto Rico, cacing itu muncul di ibukota San Juan pada 2014. Temuan pertama Platydemus manokwari di Kepulauan Solomon juga terjadi pada 2014, di Guadalcanal.

Para peneliti juga menemukan 2 kelompok genetika dari cacing tersebut atau haplotype -- yang secara fisik tak bisa dikenali kecuali pada tingkat kode genetik.

Pertama adalah 'Australian haplotype' yang hanya ditemukan di Australia dan Kepulauan Solomon. Sementara, 'World haplotype' ditemukan di Prancis, Kaledonia Baru,  Polinesia Prancis, Singapura, Kepulauan Solomon dan Puerto Rico. Juga di Florida, Amerika Serikat.

Temuan cacing pipih di AS sangat mengkhawatirkan. Sebab, hewan jenis itu biasanya terisolasi di pulau-pulau kecil. Dari Florida, P. Manokwari bisa dengan mudah menyebar ke seluruh Amerika Serikat dan Benua Amerika secara keseluruhan.
(Ein/Tnt)

Senin, 15 Juni 2015

ADA WAJAH ORANG DI BALIK AIR TERJUN CYCLOOP SENTANI

 Wajah Orang DIbalik Air Terjun Cycloop (Foto: Whens Tebay)
Ini Link situs online yang memuat tentang ADA WAJAH ORANG DI BALIK AIR TERJUN CYCLOOP SENTANI dari #papuansphoto

1. https://papuansphoto.wordpress.com/2015/06/07/ada-wajah-orang-di-balik-air-terjun-cycloop-sentani/
2. http://tabloidjubi.com/2015/06/12/ada-wajah-manusia-dibalik-air-terjun-cycloop-sentani/
3. http://www.tapanews.com/2015/06/06/ada-wajah-orang-di-balik-air-terjun-cycloop-sentani/
4. http://www.papua.us/2015/06/sosok-wajah-di-air-terjun-gunung.html

Simpalak, Buah Dari Papua Pengusir Tikus


Buah Simpalak Solo – Sepanjang kawasan Car Free Day (CFD) jalan Slamet Riyadi Solo banyak barang yang dijajakan, mulai pakaian, makanan, minuman, barang elektronik dan sebagainya.
Diantara barang dijajakan itu ada barang termasuk baru dan belum banyak dikenal oleh masyarakat kota Solo.
Barang itu yakni buah Simpalak.
“Buah Simpalak ini berguna untuk mengusir tikus,” ujar Wulan, penjual buah Simpalak Minggu (14/6).

Wulan mengatakan, Buah Simpalak berasal dari Papua. Buahnya bulat lonjong, berwarna coklat bergaris-garis putih tak beraturan.
“Menurut penelitian mengandung asam milotat. Asam milotat mengeluarkan bau yang tidak dimaui tikus,” ungkapnya.
Wulan mengatakan, dirinya menjual buah Simpalak, tiga biji Rp 10.000,-. Untuk mendapatkan, buah itu didatangkan dari Papua melalui Semarang.
“Dan saya jual di CFD, baru pertama kali,” ungkapnya.

 http://www.timlo.net/

Rabu, 20 Mei 2015

Kampung Prasejarah Ditemukan di Papua

Sebuah perkampungan prasejarah ditemukan Balai Arkeologi Wilayah Papua pada 14 Mei lalu. Di perkampungan seluas 1.000 x 500 meter di Bukit Srobu, Kelurahan Abe Pantai, Kota Jayapura, itu, para arkeolog menemukan situs-situs dan kerajinan yang diduga peninggalan masa neolitikum (batu muda) dan megalitikum (batu besar).
”Kami menemukan banyak pecahan gerabah dan alat serpih batu yang merupakan perangkat zaman neolitik, masa 10.000 tahun sebelum Masehi,” papar ketua tim ekskavasi, Erlin Novita Djami, Senin (19/5/2014).

Selain itu, ditemukan juga peninggalan kebudayaan megalitikum (masa 3.600 tahun sebelum Masehi) berupa meja batu, turap yang merupakan dasar sebuah permukiman, dan menhir.

Erlin mengatakan, penemuan situs berawal dari laporan masyarakat serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Papua. ”Warga yang sering bepergian ke Bukit Srobu menemukan tulang belulang manusia,” ujar dia.

Menurut Erlin, gerabah itu digunakan sebagai alat memasak dan sarana penguburan sekunder. ”Mereka memasak kerang laut menggunakan gerabah. Kami juga menemukan tulang belulang manusia di dalam gerabah,” ujarnya.

Ia pun menambahkan, kemungkinan masuknya budaya neolitik dan megalitik ke Papua dibawa oleh masyarakat ras Austronesia dari Taiwan pada 5.000 tahun sebelum Masehi. ”Kami memperkirakan adanya pertukaran antara suku bangsa Melanesia dan Austronesia melalui penggunaan sistem barter,” tutur Erlin.

Kepala Balai Arkeologi Papua Muhamad Irfan Mahmud mengatakan, penemuan artefak prasejarah tersebut merupakan yang keempat kalinya tahun ini. ”Sebelumnya, kami menemukan arca berbentuk manusia di Kabupaten Boven Digoel, kapak batu di Kabupaten Yahukimo, sebuah goa dengan gerabah di dalamnya di Papua Barat, dan alat serpih batu di Kabupaten Maybrat,” tutur dia.

Muhamad mengharapkan Pemerintah Kota Jayapura segera menetapkan Bukit Srobu sebagai cagar budaya. (FLO/KOMPAS CETAK)